Matematika adalah salah satu pelajaran yang menurut kebanyakan orang itu sulit. Dan pada akhirnya statemen itupun turun temurun ke generasi berikutnya. Langkah awal yang harus kita lakukan untuk memutus pemikiran tersebut adalah hilangkan kata sulit dan buatlah anak anak untuk mencintai matematika.
Dulupun sewaktu saya masih sekolah matematika menjadi momok yang mengerikan bikin panas dingin. Dan setelah mengikuti kelas bunsay ini jadilah tau bahwa matematika bisa dipelajari dengan cara yang menyenangkan. Matematika bukan sekedar hafal rumus, pemahaman dan ketrampilan logis lebih penting.
Melalui kelas bunda sayang inilah pengenalan matematika mulai lebih itensif kepada anak anak dan dibuat menyenangkan. Bersifat santai tapi mengena.
Aplikasi matematika itu ternyata bisa ditemukan setiap hari.
Misalnya adalah menghitung jatah jajan anak sendiri. Jatah 4.000 rupiah hari ini sudah jajan pagi 1000 siang 2000. Jadi sisa jatah jajan berapa ? Dari kasus itu bisa belajar pengurangan dan penjumlahan.
Kasus kedua bunda membelikan permen 6 buah sebagai bonus. Kita bisa mengenalkan pembagian permen . Berapa jatah masing masing anak ?
Dari kasus yang saya temukan sehari hari anak anak akan lebih mudah memahami karena mendapatkan contoh yang nyata.
Itu adalah contoh kasus untuk anak usia SD.
Kalau untuk yang usia TK dengan menghitung mobil yang lewat dijalan, mengitung tenggang waktu bermain.
Anggapan bahwa matematika itu sulit menurut analisa dari Maria Montessori adalah karena matematika diajarkan secara 'tradisional'. Anak-anak langsung dikenalkan oleh simbol angka melalui buku, teks, dan papan tulis sehingga matematika di mata mereka benar-benar abstrak. Oleh sebab itulah, Dr Maria Montessori membantu anak usia dini memahami dan membangun konsep matematika melalui alat-alat tertentu sehingga konsep yang abstrak tersebut menjadi jelas. Anak-anak mendapatkan pengalaman nyata sehingga mampu mengenal konsepnya secara konkret, jelas dan nyata. Bukan hanya sekedar hafalan rumus.
Kemampuan dasar matematika yang perlu ditumbuhkan pada anak-anak kita yaitu :
1. Kemampuan mengelompokkan
Dalam hal ini, anak diharapkan dapat mengelompokkan atau memilih benda berdasarkan jenis, fungsi, warna, maupun bentuk tertentu. Anak mampu mencari, mengumpulkan, meneliti, hingga menemukan sesuatu yang bersifat sama. Bunda dapat mengajak si kecil mengumpulkan benda-benda yang memiliki karakteristik yang sama, misalnya: ajaklah si kecil merapikan mainannya ke dalam beberapa kotak. Kotak pertama untuk lego, kotak kedua untuk mobil-mobilan, dan seterusnya.
Aktivitas lain yang bisa si kecil lakukan antara lain:
-mengelompokkan benda-benda di rumah yang memiliki warna yang sama.
-mengelompokkan benda-benda di rumah yang memiliki bentuk yang sama.
-memisahkan dua jenis benda (kacang, kancing, batu, kerang, dll) ke dalam dua wadah berbeda.
-dll
2. Kemampuan menyusun
Dalam hal ini, anak diharapkan mampu menyusun sesuatu secara urut. Misalnya, menyusun benda dari yang paling pendek hingga yang paling panjang, dari yang paling kecil hingga yang paling besar, dari yang paling tinggi hingga paling rendah, dan seterusnya.
Aktivitas yang bisa si kecil lakukan antara lain:
-Menyusun buku di rak buku dari yang paling tebal hingga paling tipis.
-Berbaris dengan kakak/adik dari yang paling rendah hingga paling tinggi.
-Menyusun piring dari yang paling besar hingga paling kecil
-dll
3. Kemampuan Mengenal pola
Dalam hal ini, anak diharapkan dapat mengenal dan menyusun pola-pola yang terdapat disekitarnya secara berurutan. Misalnya, Bunda meletakkan benda berwarna merah-kuning-merah-kuning secara horizontal. Lalu, pintalah si kecil untuk melanjutkannya. Benda berwarna apakah selanjutnya? Setelah memahami urutan dua pola, Bunda dapat menambahkannya menjadi tiga pola, dst.
Aktivitas yang dapat dilakukan bersama si kecil:
-meronce (sedotan, manik-manik, dll) sesuai dengan pola tertentu.
-menjepit magkuk dengan jepitan baju sesuai dengan pola tertentu.
-menjepit kertas dengan penjepit kertas sesuai dengan pola tertentu.
-dll
4. Kemampuan Mengenal Ukuran
Dalam hal ini, anak diharapkan dapat mengenal konsep berat-ringan, jauh-dekat, panjang-pendek, tinggi-rendah, dll.
Aktivitas yang dapat dilakukan si kecil antara lain:
-mengukur benda menggunakan jengkal jari tangan/penggaris.
-mengukur jarak menggunakan langkah kaki (misal jarak dari kasur ke lemari pakaian, jarak dapur ke ruang tamu, dll)
-menimbang bahan-bahan makanan saat akan membuat kue.
-mengukur tinggi badan dengan menyatukan balok mainan.
-dll
5. Kemampuan Mengenal Geometri
Anak diharapkan dapat mengenal dan menyebutkan berbagai macam benda, berdasarkan bentuk geometri dengan cara mengamati benda-benda yang ada di sekitarnya. Misalnya, lingkaran, segitiga, bujur sangkar, persegi panjang, oval, dll.
Aktivitas yang dapat dilakukan si kecil antara lain:
-membuat berbagai bentuk geometri menggunakan playdough.
-membuat berbagai bentuk geometri menggunakan stik es krim.
-membuat berbagai bentuk geometri menggunakan sedotan.
-dll
6. Kemampuan Mengestimasi/Memperkirakan
Dalam hal ini, anak diharapkan dapat memiliki kemampuan memperkirakan (estimasi) sesuatu. Misalnya, perkiraan terhadap waktu, luas jumlah, ataupun ruang.
Aktivitas yang dapat dilakukan si kecil antara lain:
-menanam kecambah lalu mencatat durasi waktu pertumbuhannya. (berapa hari tumbuhnya?)
-memantulkan bola (anak menebak berapa kali pantulan bola yang tercipta jika dipantulkan tinggi? jika dipantulkan rendah?)
-memperkirakan luas buku dengan kepingan uang logam.
-memperkirakan jumlah sumpit dalam genggaman tangan.
-dll
7. Kemampuan Mengenal Bilangan
Salah satu konsep matematika yang paling penting dipelajari anak adalah pengembangan kepekaan bilangan.
Dengan tahap pengenalan matematika melalui cara yang menyenangkan, anak anak akan memandang matematika itu mudah dan bisa ditemui setiap harinya. Dan untuk selanjutnya diharapkan anggapan matematika sebagai sebuah pelajaran yang menakutkan berubah menjadi pelajaran yang meyenangkan.
Belajar matematika ?? Siapa takut ??
sumber bacaan :
- Belajar metode montessori by Julia Sarah Rangkuti
Komentar
Posting Komentar