Mengontrol emosi dengan baik adalah salah satu PR yang menjadi prioritas. Sulit tapi bukan berarti tidak bisa. Yang pasti harus konsisten dilakukan terus menerus agar terlatih.
Seperti kasus meghadapi sikecil Haura yang masih berusia 3,5 tahun. Masih menyukai satu model celana yang lain lewat...#banyak celana yang dianggurin di lemari 😣😣
Setelah kemarin ada new comer celana putih jadilah si andalan. Maunya pake terus, kotor kl ga parah banget saya mengalah untuk bisa dipake lagi. Kl sdah kena ompol baru sya pastikan masuk ke list cucian.
Awalnya merajuk menangis dipegangin celana putih yang kena ompol pas tidur malem.
" tarik nafas tahan nafas kluarkan pelan pelan" Diam menemani sikecil menangis smbil pegang si clana paporit. Sampai akhirnya tertidur dalam kondisi pegang celana ompol dan masih blm pake celana
#fyuh.. what can i do nak kl kamu sperti ini 😳😳
Pelan pelan saya pakein celananya. Dan celana paporit andalan saya ambil pelan pelan. Alhamdulillah sukses tidak terbangun. Padahal was was juga kl sampai terbangun bisa jadi tangisan tengah malem lagi. 😷😷
Dan ketika bangun tidur menanyakan perihal celananya. Pelan pelan saya jelaskan tentang celana yang kena ompol. Ompol yang bsa bikin gatel , najis , banyak kumannya.
Alhamdulillah tidak menangis, tidak merajuk dan tau kl celananya dicuci biar bersih kl kering bisa dipakai lagi.
Selesai... belummm. Ternyata masih harus belajar lagi. Penolakan terus berlanjut sampai saat ini. Saya mencoba untuk memahami semuanya berproses tidak instan. Demikian pula dengan mengontrol emosi ini.
Bunda belajar mengontrol emosi darimu nak..
Menghilangkan amarah menjadi doa yang berkah
#hari9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsay
Komentar
Posting Komentar