Langsung ke konten utama

Mempersiapkan calon ayah ibu pembangun peradaban

Ayah bunda...
Anak-anak hebat telah diamanahkan di tengah keluargamu..
Mendidik mereka bukan hanya untuk menjadi generasi pintar dan modern.
Namun untuk mempersiapkan mereka menjalankan misi spesifik hidupnya, dan membangun peradaban generasi berikutnya.
Dari dalam rumah

Orangtua banyak yang menyediakan segalanya untuk anak anak agar tidak gagap teknologi tapi terkadang orangtua lupa menyiapkan anak anak saat dewasa atau menjadi orangtua.

Gagap orangtua adalah  orangtua yang hanya memenuhi kewajiban orangtua yaitu  dengan memberikan nafkah , anak sudah tercukupi kebutuhannya , sukses pendidikan dan karir. Mereka lupa  memberikan bekal  pendidikan seks kepada anak anak . Yangmana pendidikan seks sangat dibutuhkan oleh anak anak di era digital ini  dimana  apapun bisa diakses hanya dengan gadget di tangan. Konten konten yang mengandung pornografi sangat mudah sekali di akses melalui gadget.

Kita bisa memutus siklus potensi gagap orangtua berawal dari diri sendiri, keluarga dan orangtua. 
Solusinya adalah dengan menumbuhkan fitrah seksualitas sesuai tahapan usia dengan  kedekatan anak dengan orangtua, aktivitas bersama, komunikasi dan keikutsertaan ke dalam komunitas yang bermanfaat.

Sangat penting sekali menumbuhkan fitrah seksualitas pada anak sejak dini karena banyaknya aktivitas anak anak diluar rumah, gadget lebih menarik dibndingkan dengan ngobrol dan aktivitas bersama , indikator kesuksesan masa kini, anak anak yang tidak paham fitrah seksualitasnya bisa menjadi indikasi adanya penyimpangan , anti pernikahan dan galau menjadi orangtua.

Untuk menumbuhkan fitrah seksualitas, bisa kita lihat referensi dari FBE menurut tahapan usia 3-6 tahun yang didekatkan dulu ke kedua orang tua,  tau perbedaan antara ayah dan ibunya , mengetahui perbedaan aktivitas  ayah dan ibu sehari hari. Lalu usia 7-10 tahun  baru yg lebih spesifik anak lelaki dengan ayah, anak perempuan dengan ibu, istilahnya sampai "mengidolakan ayah/ibunya" masing2

Tantangan pendidikan fitrah seksualitas yg mengarah pada gagap menjadi  orang tua adalah masih banyaknya orang tua  yg membangun keluarga tanpa tujuan,  yg menjadikan capaian akademis sebagai indikator kesuksesan.  Bila ini tidak diperbaiki,  kedepannya, semakin banyak ortu gagap,  produk dari pengasuhan sebelumnya,  yg rawan thd serangan pemahaman negatif terkait seksualitas.. Efek terburuknya,  anak2 mereka rawan menjadi pelaku penyimpangan seksual,  maka utk menghindari hal ini,  pengasuhan harus memasukkan muatan pendidikan fitrah seksualitas sesuai tahapan usia.

Contoh stereotype jaman sekarang yang mengarah pada gagap jadi orang tua yaitu :
- anak dianggap sukses itu yg berprestasi akademis saja, dapat masuk sekolah favorit, aktif berkegiatan padat di luar.
- anak tumbuh 'difasilitasi' ortu, tidak perlu membantu pekerjaan rumah "pokoknya kamu fokus belajar aja"
- akhirnya anak punya mindset target dia adlh lulus gemilang, dapat kerjaan keren. Sukses itu. Menikah dan punya anak dianggap otomatis sajalah kalo sudah waktunya ya dijalani (sekadarnya)
--> stlh punya anak, kemungkinan besar akan mengulangi lagi.

Dan apa negatifnya ?
Misalnya, anak anak perempuan tumbuh berpikir bahwa tak perlu persiapan mengatur rumah tangga.
Menjadi generasi orangtua serba instan.
Berpikir bahwa kalaupun punya anak tinggal dititip ke kakek nenek/baby sitter, memenej rumah bisa diserahkan ART, dst.
Bersemangat merencanakan training & planning karier, tapi melupakan planning keluarga.

Contoh di mana fitrah seksualitas diabaikan yg bisa mengarah pada penyimpangan seks misalnya adalah  pada situasi ketimpangan kehadiran sosok ayah/ibu. Misal seorang anak tomboy, sebetulnya tidak terlalu beresiko.
Namun.. jika dibiarkan tidak dikenalkan dengan peran kewanitaannya, maka akan jadi potensi tantangan seperti :
- merasa tidak butuh laki2
- menjadi anti pernikahan
- namun di saat yg sama,   fitrah cinta (butuh diperhatikan) dalam tiap diri seseorang tidak bisa begitu saja dimatikan. Maka bisa jadi si gadis tomboy bisa memandang wanita lain yg terlihat lebih lemah untuk jadi sosok untuk dilindungi. Dan akhirnya terjadi penyimpangan.

Fitrah sebagai istri tidak melulu di bagian dapur dengan emansipasi jaman sekarang ada juga ibu yang bekerja atau stay at home dad. Tetapi hal hal tertentu di fitrah ayah dan ibu tidak bisa saling tertukar. Misalnya femininitas dan maskulinitas seperti yang kita ambil dari buku FBE ust. Harry Santosa

Tidak ada kata terlambat, selama kita membersamai anak dan kita mau belajar, semoga anak kita bisa mengerti peran nya kelak ketika dewasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aplikasi hari ke 7

Untuk urusan download pake aplikasi keepvid.com Bisa download dari youtub dan bagusnya lagi bisa dikonversikan menjadi mp3. Jadi sesuai dengan kebutuhan.

Math in the shop

Critanya hari ini jalan jalan ke kota ke pasar tepatnya dengan maksud mencari baju seragam untuk ponakan. Belajar matematika memang bisa dimana saja. Bisa dijalan raya , menghitung ada berapa mobil yang sedang berhenti di lampu merah, menghitung becak yang sedang parkir di sepanjang jalan. Sambil belajar dan bisa menahan mata dari rasa kantuk si kecil ^^ Setelah sampe ditoko juga media untuk belajar berhitung masih ada. Dari menghitung sarung yg di tata rapi, menghitung warna yang sama , menghitung patung. Semuanya bisa jadi media. Dan haura pun menikmatinya.  Sambil menyelam minum air , sambil berhitung sambil menghilangkan kebosanan saat menunggu berbelanja.

Aliran rasa

Kali ini saya merasa tidak full dalam menghadapi challenge ini. Kebetulan bertepatan dengan launching si kecil di perut. Yang pada awalnya sudah merencanakan dan sudah ada beberapa kegiatan yang tersimpan setelah kehadiran si kecil seperti buyar semuanya. Kegiatan tidak terkendali dan saya pun mulai disibukan dengan sikecil. Semoga challenge ke depan bisa diikuti dengan baik